Terapi Dengan Jus

Sudah lama diketahui bahwa buah dan sayur mengandung antioksidan yang mampu mencegah penuaan dini dan mengganti sel-sel tubuh yang rusak serta membantu pengobatan.

Obat Punya Efek
Prof. DR. Radja Aman Nainggolan menuturkan, orang yang sedang sakit sebetulnya tidak butuh obat. “Yang dibutuhkan hanya istirahat, makan teratur, kunjungan keluarga, serta pengawasan dokter. Apalagi, banyak obat yang memiliki efek samping yang bisa memengaruhi sistem kerja metabolisme tubuh,” kata penulis buku Diet dan Juice Therapy ini. Oleh karena itu, terapi jus lebih aman selama masa penyembuhan ketimbang hanya minum obat.

Three Days cleansing
Salah satu cara untuk membantu membersihkan tubuh dari sisa-sisa makanan sehingga terhindar dari penyakit adalah three day cleansing dengan terapi jus. “Pembersihan dapat dilakukan sedikitnya 4 kali setahun, namun jika sanggup, bisa dilakukan sebulan sekali. Salah satu pembersih tubuh yang baik adalah buah apel dan wortel.” Dalam masa pembersihan, hanya jus buah atau sayur yang dikonsumsi selain minum air putih tentunya. Jika Anda merasa lapar, itu menandakan tubuh sedang dibersihkan dari sisa makanan. Setelah masa pembersihan, sebaiknya konsumsi makanan mentah dan hindari gula, garam, minyak, telur, daging, dan ikan.
Sebelum melakukan terapi jus, perlu juga memerhatikan hal seperti: jus buah dan sayuran jangan dicampur gula atau air; jus harus segera diminum begitu selesai dibuat; jus semangka hanya boleh dicampur melon, wortel dan nanas; terapi jus untuk semua umur termasuk bayi setelah tidak lagi minum ASI.

Buah Dan Sayur Sebagai Obat Beberapa resep di bawah ini bermanfaat menyembuhkan berbagai penyakit, antara lain: * Aphoni (kehilangan suara) Pagi: Wortel 1 gelas, bayam 1/2 gelas Siang: Wortel 1 gelas Sore: Wortel 1 gelas, dandelion ( rumput yng berwaarna kuning) 1/3 gelas Lobak Cina 1/4 gelas Malam: Wortel 1 gelas, selada 1/2 gelas Petroselli 1/3 gelas * Sakit Kepala Pagi: Wortel 1 gelas,bayam 1/2 gelas Siang: Seledri 1/2 gelas, wortel 1 gelas, bayam 1/3 gelas Malam: Wortel 1 gelas, Beet 1/3 gelas, timun 1/3 gelas * Insomnia Pagi: Wortel 1 gelas, bayam 1/2 gelas Siang: Wortel 1 gelas, seledri 1/2 gelas Malam: Wortel 1 gelas, beet 1/3 gelas, timun 1/3 gelas * Napas bau (Halitosis) Wortel 1 gelas dan bayam 1/2 gelas, sebanyak 3 kali sehari. *Takaran dibuat berdasarkan 1 liter = 4 gelas.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

Memutihkan Gigi, Bisa Dilakukan di Rumah

Gigi putih tentu menjadi dambaan setiap orang. Kini, ada beragam cara untuk membuat gigi menjadi lebih putih. Mau cara instan atau yang memakan waktu? Anda tinggal pilih.

Warna putih gigi bisa hilang akibat makanan, minuman, dan kebiasaan merokok. “Sering mengonsumsi antibiotik yang mengandung tetrasiklin juga mengakibatkan warna gigi berubah kusam,” terang Drg. Lita Darmawan dari Klinik Kharinta, Bintaro.

TIGA CARA PUTIHKAN GIGI
Mau cepat atau lama? Proses pemutihan gigi bisa Anda pilih sesuai isi kantong dan kebutuhan.

1. Pemutihan dengan Gel
Langkah awal, dokter akan mencetak gigi untuk pembuatan sampel tray (wadah) gigi di laboratorium. Setelah tray siap, pemutihan gigi dengan gel bisa dilakukan di rumah. Caranya, oleskan gel pemutih pada tray, lalu pasang tray pada gigi. “Pemutihan dilakukan selama tidur malam. Saat bangun pagi, tray baru bisa dilepas, setelah itu gosok gigi dan bersihkan tray-nya,” kata Lita. Jika dilakukan selama tiga hari berturut-turut, gigi putih yang diidamkan pun akan segera dimiliki. Biaya satu paket perawatan gigi dengan gel ini berkisar Rp. 1,5 – 2 juta.

2. Pemutihan dengan Laser
Pemutihan cara ini harus dengan bantuan dokter gigi. Caranya, sebelum dilaser, gusi diberi pelindung. Setelah itu, gigi disinari dengan sinar yang cukup tinggi, kemudian dibilas dan disinari lagi. Perubahan akan terlihat hanya dalam waktu 0,5 – 1 jam.

3. Pemutihan dengan selotip pemutih
Pemutihan dengan selotip hanya butuh waktu setengah jam dan hasilya hanya bertahan beberapa hari saja. Pada proses pemutihannya, selotip pemutih ditempelkan pada gigi selama setengah jam. Setelah dilepaskan, gigi akan tampak menjadi lebih putih. “Harga satu paket selostip cukup mahal, yaitu Rp 750 – 1 juta,” kata Lita.

SEPUTIH APA GIGI ANDA?
Ada empat kelas warna gigi, yakni A, B, C, dan D. “Gigi di kelas A merupakan gigi dengan warna kekuningan. Kelas B merupakan gigi putih, C kategori keabuan dan D adalah gigi kecokelatan,” papar Lita.
Setiap kelas terdiri dari 5 strip. Dokter gigi akan menentukan di mana letak kelas gigi Anda dan menaikkan dua strip agar terlihat lebih putih. Misalnya Anda berada di kelas A2 maka dinaikkan dua strip menjadi A4.

ANAK KECIL BELUM BOLEH
Pemutihan gigi tidak dilakukan pada anak-anak, karena anak-anak memiliki ruang gigi yang masih cukup lebar, sehingga semakin rentan terjadinya iritasi dan rasa linu. Biasanya, pemutihan dilakukan pada orang yang berusia lebih dari 15 tahun dimana keadaan giginya sudah mapan.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

Jangan Sembarangan Minum Obat! (2)

Sensitivitas Bawaan Lantas, bagaimana bila terjadi alergi obat untuk pertama kalinya? Tentu perlu dikenali gejala alergi yang terjadi. Meski dikatakan gejala umumnya terjadi dalam waktu berdekatan seusai konsumsi obat, beberapa alergi obat bisa timbul dalam waktu lebih dari 24 jam seusai penggunaan. Ini disebut dengan delayed reaction. Umumnya begitu mengonsumsi bahan alergen, akan timbul reaksi seperti bengkak, pusing, sesak nafas, atau diare. Khusus gejala diare akibat alergi obat ini, menurut Parlin, biasanya tak berdiri sendiri. Tetapi didahului dengan gatal atau bengkak di bagian tubuh lain. Alergi obat yang terjadi dalam waktu singkat atau tertunda ini, sebaiknya dicatat baik-baik sebagai referensi kesehatan pribadi. Umumnya pada saat pemeriksaan, sebelum memberikan obat, dokter akan menanyakan apakah pasien memiliki reaksi alergi terhadap obat tertentu. Ini ditujukan agar tak terjadi kesalahan pemberian obat yang menimbulkan efek negatif. Misalnya, bila mengetahui riwayat sebelumnya bahwa Anda alergi terhadap pemberian antibiotik jenis penisilin, dokter akan meresepkan antibiotik dari golongan lain, seperti golongan sulfa. Mengingat alergi ini bersifat seumur hidup, Parlin mengingatkan, jangan sesekali mencoba untuk menguji sensitivitas atau reaksi alergi yang dimiliki. Sensitivitas tubuh itu sifatnya sudah bawaan dan tak mungkin disembuhkan. Sedangkan untuk kontradiksi obat, biasanya dokter akan menanyakan riwayat penyakit pasien sebelum menuliskan resep. Meski pada obat yang diberikan tidak beserta kemasan atau petunjuk kontraindikasi, sebenarnya kontraindikasi obat sudah tertera dalam referensi obat seperti MIMS atau Daftar Obat Nasional. Baca Petunjuknya! Pada dasarnya, obat resep sudah dipertanggungjawabkan oleh dokter yang meresepkan, begitu pula obat bebas. Bila ingin mengonsumsi obat bebas, Parlin menyarankan, agar membeli obat dengan kemasan utuh, sehingga petunjuk penggunaan beserta kontraindikasi yang bisa diakibatkannya bisa terbaca. Misalnya, pada obat-obat rematik biasanya akan memicu asam lambung jadi meningkat. Obat jenis ini sangat tak dianjurkan pada penderita sakit maag. Bila menemui rekan atau anggota keluarga menunjukkan gejala kontraindikasi obat, hentikan konsumsi obat dan segera bawa ke dokter atau rumah sakit terdekat. Ceritakan seluruh riwayat penggunaan obat dan bawa serta obat yang diperkirakan menyebabkan kontraindikasi. Namun, Parlin memberi catatan, pada obat yang tak mencantumkan kandungan atau ditulis dalam bahasa yang sulit dipahami, tentu akan sulit dicari solusinya. Parlin lalu mengingatkan agar masyarakat tak mengonsumsi obat maupun suplemen yang tak mencantumkan secara jelas kandungannya. ”Saya selalu menganjurkan, apa­­lagi bagi orang yang punya sakit ginjal, obat yang tak jelas (kandungannya) jangan dikonsumsi,” tegas Parlin. Sedangkan pada kasus alergi obat, Parlin menganjurkan agar menghentikan konsumsi obat. Bila berlangsung parah, bisa segera dibawa ke rumah sakit. Namun, bila masih sebatas gatal atau bengkak, pemberian obat bisa dihentikan dan diberikan antihistamin seperti cetirizin dihidroklorida atau chlor tri methon. Pada kasus pingsan atau syok anapilaktik, segera bawa ke rumah sakit. Bila terlambat bisa mengakibatkan kematian. Selain penggunaan obat antihistamin, pada kasus keracunan ringan bisa juga diberi karbon aktif minimal 4-5 butir sekali minum. Atau susu pada kasus keracunan obat serangga. Sedangkan mitos keracunan obat dapat diupayakan dengan pemberian air kelapa, Parlin menyatakan, belum ada jaminan ini bisa menghasilkan efek terhadap keracunan. Sayangnya, khusus pada kasus alergi obat, lanjut Parlin, masih sulit dilakukan tes terlebih dahulu dengan tes laboratorium. Hanya alergi pada penisilin saja yang bisa dilakukan uji reaksi alergi. Sedang bahan obat lainnya, kebanyakan akan membuat reaksi alergi palsu. Misalnya, saat diuji justru bahan-bahan di dalamnya menimbulkan reaksi alergi sehingga sering menimbulkan hasil positif.

Dipublikasi di obat | Tinggalkan Komentar

Jangan Sembarang Minum Obat! (1)

Jika sesaat setelah mengonsumsi obat lalu timbul gejala yang tak diharapkan, mungkin saja ini gejala keracunan obat. Mari cari tahu lebih lanjut!

Anda mungkin pernah mendengar kasus seseorang yang tubuhnya melepuh dan gosong setelah mengonsumsi obat yang diresepkan seorang paramedis rumah sakit di suatu daerah yang membuka praktik pribadi di rumah.

Seusai mengonsumi obat itu, orang tadi mengeluh tubuhnya terasa amat panas dan kulitnya gatal. Lama kelamaan kulitnya jadi menghitam seperti gosong, bahkan matanya terancam buta.
Lain lagi dengan kasus yang pernah ditemukan di Sumatera Uta­ra. Seorang wanita dikabarkan meninggal dunia dengan tubuh melepuh seusai mengonsumsi suplemen mengandung klorofil. Dugaan sementara wanita itu meninggal akibat keracunan obat.

Begitu banyak kasus serupa ditemui di media massa. Banyak pula asumsi yang dikaitkan akibat malpraktik dokter yang menyebabkan terjadinya kasus keracunan obat ini. Bagaimana sebenarnya yang ter­jadi dengan kasus keracunan obat ini?

DR. dr. Parlindungan Siregar, Sp.PD, KGH, konsultan sub-bagian ginjal divisi penyakit dalam Siloam Hospital Karawaci yang kerap disapa Parlin, menjelaskan fakta mengenai keracunan obat dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi dari sudut pandang medis.

Malapraktik Vs Alergi Obat
Memang mengerikan bila menemui reaksi tak diharapkan dari sebuah pengobatan. Tak hanya menyebabkan gatal atau bengkak di bagian tertentu tubuh, tapi beberapa juga menyebabkan seluruh tubuh melepuh seperti luka bakar, hingga hilang kesadaran.

Bukan hanya sesaat setelah mengonsumsi obat, saat jarum injeksi belum selesai dicabut pun seseorang bisa saja menunjukkan reaksi, misalnya pingsan. Bila sudah begini, keluarga pasti panik mencari penjelasan lebih lanjut. Dokterkah yang bersalah?

Menanggapi hal ini, Parlin tak setuju bila contoh dua kasus di atas disebut sebagai kasus keracunan obat. Parlin lebih sepakat ini disebut sebagai reaksi alergi obat. Dalam dunia medis alergi obat diklasifikasikan sebagai adverse drug reaction atau reaksi simpang obat.

Reaksi semacam ini memang bisa terjadi pada siapapun, tak jauh berbeda dengan reaksi alergi pada makanan. ”Memang, seluruh bahan obat berpeluang menyebabkan terjadinya reaksi alergi pada seseorang,” ungkap Parlin.

Namun, berat dan tidaknya reaksi yang ditimbulkan tergantung dari sensitivitas imun yang mengenali bahan obat sebagai benda asing. Reaksi yang bersifat ringan biasanya hanya menimbulkan bengkak pada mulut atau mata. Atau berupa gatal di bagian tubuh tertentu seperti kaki, tangan, dada, atau seluruh tubuh.

Sedangkan reaksi yang lebih berat bisa menimbulkan kulit melepuh dan pecah-pecah, atau biasa disebut stevens jhonson syndrome. Bahkan gejalanya juga bisa membuat sesak nafas hingga pingsan, akibat tekanan darah anjlok tiba-tiba.

”Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan kondisi tubuh seseorang. Hanya soal kepekaan saja,” Parlin meluruskan anggapan yang mengaitkan sakit pendahulu dengan reaksi alergi pada seseorang.
Reaksi alergi ini merupakan bawaan yang sudah dimiliki seseorang sejak lahir, begitu pula potensi reaksi yang mungkin terjadi. Bukan hanya reaksi alergi yang patut diwaspadai dari reaksi simpang obat ini, kontraindikasi obat pun patut diberi perhatian.

Obat-obatan tertentu diketahui berpotensi menimbulkan reaksi terhadap kondisi tertentu. Misalnya, pada wanita hamil dilarang menggunakan antibiotik tetrasiklin yang dapat menimbulkan kelainan pada janin.
Pada penderita asma tak boleh menggunakan obat darah tinggi jenis beta blocker yang bisa memicu asma kambuh. Obat golongan steroid tak boleh diberikan kepada orang dengan luka (ulkus) lambung, karena dikhawatirkan bisa memicu perdarahan lambung. ”Biasanya kontraindikasi obat sudah tercantum pada kemasan obat dan sudah diketahui oleh dokter yang meresepkan obatnya,” tegas Parlin.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

Bell’s Palsy Bikin Lumpuh Separuh Wajah

Pagi sebenarnya itu tak ada hal istimewa yang dirasakan Fenty. Namun, alangkah kagetnya ia ketika terbangun di pagi hari, wajahnya tampak tak normal. Bibirnya menjadi miring sebagian dan otot wajahnya terasa sulit digerakkan. Berkedip pun ia tak bisa. Ia merasakan bagian wajahnya mati separuh.

Kenyataan ini membuat Fenty panik bukan kepalang. Ia merasa usianya masih muda, 25 tahun, dan tak punya riwayat penyakit jantung atau hipertensi. Ia mengira, mungkin telah mengalami serangan stroke. Tapi, bagaimana bisa?

Ya, ilustrasi ini sebenarnya bisa terjadi kepada siapa pun, tak terbatas usia dan aktivitas seseorang. dr. Rocksy F. V. Situmeang, Sp.S, spesialis syaraf dari Siloam Hospital Karawaci menjelaskan, belum tentu wajah yang tiba-tiba mencong itu akibat stroke.

“Bisa saja itu gejala Bell’s palsy, atau gangguan pada syaraf kranial ke-7 yang ditemukan oleh Sir Charles Bell,” ujar Rocksy. Gangguan ini bisa menyebabkan perintah otak yang menggerakkan wajah jadi terganggu. Mengakibatkan wajah lumpuh sebagian dan membuat bentuk wajah jadi miring sebelah.

Bukan Stroke
Bell’s palsy pada dasarnya merujuk pada kelumpuhan salah satu syaraf wajah (mononeuropati) yakni syaraf ke-7. Kelumpuhan ini murni disebabkan jepitan pada syaraf ke-7, bukan dari penyebab lain seperti pembuluh darah pecah atau tersumbat.

Berbeda dengan stroke, Bell’s palsy hanya menyebabkan kelumpuhan pada separuh wajah. Bukan kelumpuhan separuh bagian badan. Kelumpuhan ini terjadi akibat adanya himpitan yang menekan serabut syaraf ke-7 sehingga tak bisa menyampaikan impuls dari pusat syaraf pada batang otak.

Syaraf yang bekerja pada wajah sebenarnya ada 12 dengan pusat pada batang otak. Masing-masing memiliki fungsi berbeda. Misalkan, syaraf 1 untuk hidung, syaraf 2 untuk penglihatan, syaraf 3-4-6 untuk gerakan bola mata, syaraf 5 untuk merasakan sentuhan dan syaraf 7 untuk menggerakkan otot wajah.

Syaraf ke-7 memiliki keistimewaan, terdapat serabut panjang dari dalam tempurung kepala keluar melalui kanal di bawah telinga menuju sisi wajah. Panjangnya serabut syaraf ke-7 ini menyebabkannya rentan terjepit atau tertekan. Bila terjadi gangguan, akan menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot wajah sesisi.

Sejumlah keluhan Bell’s palsy juga disertai sakit kepala tak spesifik. Umumnya Bell’s palsy tak disertai keluhan lain seperti rasa kebas, karena syaraf perasa di wajah dipengaruhi syaraf 5, bukan 7. Namun, karena terjadi kekakuan pada otot wajah, penderitanya merasa sedikit tebal pada kulit wajahnya.

Angin Bukan Penyebab
Banyak asumsi dikaitkan dengan Bell’s palsy. Beberapa pendapat di masa lalu mempercayai, Bell’s palsy disebabkan angin yang menyusup ke daerah belakang telinga dan mengganggu syaraf ke-7.

Ada pula yang berpendapat, kondisi ini diakibatkan serangan virus cytomegalovirus, atau herpes. Kenyataannya, tanpa bepergian atau terkena angin, maupun mendapat serangan virus sekalipun, seseorang tetap bisa terserang Bell’s palsy.

Pada wanita hamil, saat kelelahan, orang dengan gangguan auto imun atau orang dengan diabetes juga rentan terserang Bell’s palsy. Rocksy lebih sependapat bila penyebab Bell’s palsy merupakan idiopati (tak bisa dijelaskan).

Namun, Rocksy juga tak menyalahkan bila beberapa orang menganggap gangguan ini terkait dengan aktivitas malam, berkendara tanpa helm full face, menggunakan air conditioner, dan lainnya.

“Beberapa teori lama, memang menyebutkan angin yang menyusup ke belakang telinga sering jadi penyebab Bell’s palsy. Sebenarnya angin hanya membawa virus. Dan virus ini bertanggung jawab atas terjadinya pembengkakan penyebab Bell’s palsy,” paparnya.

Sembuh Sendiri
Menghadapi wajah yang mencong tiba-tiba akibat Bell’s palsy sebaiknya jangan panik. Menurut Rocksy, Bell’s palsy bisa sembuh hingga 100 persen dan tak meninggalkan kecacatan. Bahkan 80 persen serangan Bell’s palsy akan sembuh sendiri dalam waktu 4 sampai 7 hari.

Asalkan ditangani tepat dan tak terlambat, bisa sembuh sempurna. Tepat artinya ditangani kurang dari 24 jam setelah serangan (golden period). Dan tidak dilakukan pengobatan alternatif atau tindakan tanpa pertimbangan medis. “Bila terlambat atau lebih dari 24 jam, obat-obatan yang digunakan jadi kurang maksimal,” ungkap Rocksy.

Namun, yang terpenting lagi penderita Bell’s palsy sebaiknya beristirahat atau mengurangi aktivitas wajah selama beberapa hari setelah terkena serangan. Dan segera berkonsultasi ke dokter syaraf selama masih dalam golden period.

Bila pengobatan dengan obat anti inflamasi atau anti-viral tak menunjukkan hasil, dan setelah dilakukan MRI tampak adanya penekanan pada syaraf ke-7, pilihan akhir yang diambil dokter adalah tindakan operasi dekompresi atau pembebasan tekanan.

Namun, sekali lagi, ini pilihan terakhir yang jarang sekali diambil. Setelah lewat fase akut 3-4 hari, barulah bisa dimulai latihan fisioterapi di depan kaca atau mengunyah permen karet.

Sebaiknya fisioterapi tak terburu-buru dilakukan, karena memicu terjadinya nerve sprouting atau syaraf tak kembali sempurna, atau tumbuh melenceng. Nerve sprouting bisa menyebabkan timbulnya gerakan tak terkontrol yang menyertai maksud gerakan pada wajah. Misalnya, kedutan di wajah.

Pada penderita diabetes, kemungkinan untuk sembuh akan berbeda dengan orang tanpa diabetes. Rocksy menerangkan, penderita diabetes yang terserang bell’s palsy akan sembuh sekitar 60 persen saja, karena kemampuan penyembuhannya relatif tak sebaik orang tanpa diabetes. Biasanya wajahnya masih akan terlihat sedikit mencong.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

Sindroma Kaki Gelisah

Selain bell’s palsy, ada juga gangguan syaraf yang dapat tiba-tiba menyerang, terutama di saat seseorang akan berangkat tidur. Ia akan mengalami rasa sangat tak nyaman pada kakinya. Gejala ini biasa disebut restless legs syndrome (RLS) atau sindroma kaki gelisah.

“RSL bisa terjadi pada segala usia, tapi lebih sering menyerang orang berusia 40 tahun ke atas,” kata Dr. Rimawati Tedjasukmana, Sp.S. Biasanya, gerakan kaki terjadi spontan, dan tak bisa dicegah layaknya orang sedang “pencak silat”.

Gejala yang timbul pun beragam, dari rasa tak enak yang sulit dijelaskan, kaki terasa panas seperti terbakar, kesemutan, dan lainnya. Penderita akan merasa lebih nyaman setelah kaki digerak-gerakkan atau berjalan.

Gejala RLS biasanya lebih sering muncul di malam hari, terutama setiap kali mau tidur. “Akhirnya, keluhan yang muncul, si penderita tak bisa tidur (insomnia), baik susah memulai tidur maupun sulit mempertahankan tidur.”

Meskipun akhirnya bisa terlelap, seringkali muncul gejala ikutan, yaitu periodic limb movement disorder (PLMD) atau gerakan kaki yang muncul di saat tidur. Gerakan ini juga spontan. Meskipun hanya gerakan kecil, tapi cukup mengganggu dan membuat penderitanya terbangun.

Penyebabnya pun belum diketahui. Sebagai catatan, tak semua penderita RSL mengalami PLMD dan sebaliknya, atau keduanya. RLS biasanya bersifat periodik. Bisa timbul beberapa lama, lalu hilang dan timbul lagi. RLS terjadi akibat adanya kekurangan neurotramsmitter, zat kimia di otak yang bernama dophamin.

Yang terganggu adalah saraf tepi. Fungsi dophamin umumnya untuk mengatur gerakan. Contohnya penderita penyakit Parkinson yang mengalami tremor atau susah berjalan. “Itu karena mereka kekurangan dophamin.” Pemberian dophamin bisa juga menjadi diagnosa RLS. Bila setelah diberi dophamin sembuh, berarti memang RLS.

Meski penyebabnya belum diketahui secara pasti, sejumlah kasus dihubungkan dengan diabetes dan gagal ginjal. Beberapa lainnya juga dihubungkan dengan kurangan zat besi. Zat besi ini merupakan pembentuk dophamin. “Di luar itu, RLS bisa juga terjadi pada orang yang tak punya riwayat penyakit diabetes atau gagal ginjal,” lanjut Rimawati.

Pengobatan RLS sebetulnya juga sangat mudah, yakni dengan mengonsumsi obat pengganti dophamin. RLS juga bisa sembuh dengan sendirinya. “Banyak orang, bahkan dokter, yang belum tahu RLS. Akhirnya diberi obat macam-macam. Dan karena kebanyakan keluhan yang datang adalah insomnia, lalu yang diberikan adalah obat tidur, jadi tak menolong sama sekali,” lanjut Rimawati.

Pengobatan RLS bisa sangat mengganggu penderita. Contoh ekstremnya, penderita RLS selama 3 bulan tak bisa tidur. “Bayangkan, tak tidur selama 3 bulan. Kualitas hidupnya pasti akan turun.”

Jika RLS terjadi akibat adanya riwayat penyakit diabetes atau gagal ginjal, selain RLS-nya, penyakitnya pun harus disembuhkan. Begitupun jika kekurangan zat besi. “Harus ditambah konsumsi makanan dan suplemen untuk menambah zat besinya,” saran Rimawati.

Sementara untuk mengurangi gejala, pijatan dan berendam di air hangat bisa membantu. Selain orang dewasa, RLS juga ternyata bisa menyerang anak-anak. Gejalanya sama, penyebabnya pun belum ketahuan.

Hanya saja, RLS pada anak-anak biasanya bersifat familial. “Artinya, di dalam keluarganya bukan hanya anak itu yang menderita. Saudaranya, orang tuanya, atau kakeknya pun menderita.”

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

Kegemukan yang Mengganggu Kesuburan

Ilustrasi

Dokter Arju yang baik,
Saya S (26) baru menikah 3 bulan ini. Dulu saya pernah menikah dengan pria berwatak kasar. Ya, saya memang janda sebelum menikah lagi dengan suami yang sekarang. Saya khawatir Dok, karena oleh mantan suami dan keluarganya saya pernah dikatakan mandul. Jujur, saat itu saya benar-benar syok dan tak terima dikatai begitu.

Saat itu akhirnya saya buktikan dengan memeriksakan kandungan ke dokter spesialis di kota saya. Setiap kali berkonsultasi, matan suami tak pernah mau menemani. Dokter ternyata mengatakan kandungan saya baik-baik saja, tak ada masalah sedikit pun. Dokter hanya menyarankan saya menjaga pola makan, dan jangan memikirkan hal-hal yang bisa membuat stres.

Sayangnya, pernikahan kami kandas dan hanya berjalan 1 tahun saja. Kini saya sudah menikah lagi dengan duda yang sudah memiliki anak. Di sisi lain saya bersyukur mendapatkan suami yang baik dan pengertian. Tapi, saya juga masih trauma, apakah bisa mempunyai keturunan lagi atau tidak. Setelah menikah 3 bulan ini, saya hanya merasakan terlambat datang bulan saja, tapi selalu haid.

Dok, apakah perempuan yang sudah menikah, haidnya akan jadi sering terlambat ya, sebab saat masih gadis haid saya sangat teratur? Apakah saya masih bisa punya keturunan Dok, mengingat di keluarga saya memang ada kerabat perempuan yang mandul? Apakah saya boleh disuntik kesuburan? Berat badan saya 75 kg dan tinggi badan 168 cm. Apakah berat badan berpengaruh kepada ksuburan? Terima kasih jawabannya.
S – Palembang

Ny. S di Palembang,
Saya perlu menjelaskan terlebih dahulu, masalah keterlambatan mempunyai anak (infertilitas) dapat disebabkan berbagai faktor. Penyebab infertilitas bisa timbul dari istri atau suami. Sekitar 35 persen penyebab infertilitas adalah faktor suami, 50 persen dari faktor wanita, dan 15 persen tak dapat dijelaskan.

Dari pihak suami dapat terjadi gangguan pembentukan sperma yang sehat. Kelainan pada sperma bisa disebabkan beberapa faktor, antara lain hormonal, trauma, infeksi, lingkungan, radiasi.

Bila faktor yang mengganggu proses pembentukan sperma dapat dihilangkan, maka sperma itu siap untuk membuahi sel telur Anda. Sedangkan masalah yang dapat timbul pada wanita, antara lain faktor hormonal, infeksi, radiasi, obat-obatan. Antara lain hal itu dapat mengakibatkan penyumbatan pada sa­luran telur, di mana lokasi itu dibutuhkan untuk pertemuan sperma dan sel telur.

Mengenai kesuburan pada diri Anda, sebenarnya secara umum saya nilai masih mungkin baik. Pertama, dari usia Anda yang masih tergolong usia masa subur (terbaik antara 20-35 tahun), kedua, pemeriksaan dokter yang mengatakan kondisi Anda baik, siklus haid Anda yang sebelum menikah teratur.

Sepertinya masalahnya di sini timbul dari berat badan Anda yang lebih dari seharusnya. Perlu diketahui, masalah kelebihan berat badan bisa menjadi masalah, karena akan menganggu keseimbangan hormon Anda.

Saran saya, untuk mendapatkan siklus haid teratur dan mempunyai hormon yang seimbang, cobalah menurunkan berat badan. Guna mencapai berat badan ideal, lakukan olah raga teratur, konsultasi ke dokter gizi di kota Anda untuk memperhitungkan pola makan dan berat ideal yang harus di capai.

Bila Anda sudah berhasil mencapai berat ideal, tetapi masih bermasalah dengan siklus haid, serta belum juga mengalami kehamilan, anjuran saya, berkonsultasi ke dokter kandungan berdua dengan suami. Seperti sudah saya uraikan di atas, semua penyebab infertilitas pasti menyangkut suami dan/ atau istri, meskipun ia sudah mempunyai anak sebelumnya.

Ada satu masalah yang bisa terjadi terkait dengan infertilitas ini, dimana didapatkan hasil pemeriksaan dokter, baik dari suami maupun istri, tapi ternyata istri mempunyai imun terhadap sperma suami.

Sehingga setiap sperma yang masuk akan dimatikan oleh antibodi istri. Ini satu contoh mengapa suami harus mendampingi istri dalam memeriksakan masalah infertilitas, agar dokter bisa lebih mudah menganalisa masalah yang timbul.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

Kenali Ragam Flu (2)

Ilustrasi

Flu Babi
Belum lama ini ditemukan per­pindahan flu dari hewan ternak ke manusia yang populer disebut flu babi. Influenza yang awalnya hanya menular antara ternak babi ke ternak babi lainnya ini ternyata mampu bermutasi dan menginfeksi manusia yang kontak langsung dengan babi.

Virus influenza tipe A strain H1N1 yang bermutasi ini memiliki sifat keganasan lebih berat dari virus influenza H1N1 sebelumnya. Gejala yang ditimbulkan tidak spesifik, mirip flu biasa seperti demam hingga di atas 38 °C, sakit tenggorokan, nyeri sendi, batuk pilek, hilang nafsu makan, pusing hingga diare. Jika fatal, bisa menyebabkan sesak nafas hingga hilang kesadaran.

Bila hasil wawancara mendalam (anamnesa) menunjukkan diagnosa positif ke arah infeksi virus ini, barulah dokter menyarankan pengobatan sesuai gejalanya. Apalagi virus ini sudah menimbulkan korban jiwa, sehingga perlu diwaspadai penyebaran dan perjalanan penyakitnya.

Beberapa prosedur penegakan diagnosa juga ada yang membutuhkan sampel spesimen dari apus nasofaring (usap cairan tenggorok) yang diteliti di laboratorium. Mengingat ganasnya gejala yang ditimbulkan, pasien yang positif diduga flu babi disarankan mengonsumsi antivirus seperti oseltamivir maupun zanamivir untuk menekan keganasan virus.

Belum ada obat yang bisa membunuh virus ganas yang bermutasi ini. Dokter menyarankan agar memberi perawatan sesuai gejala dan memberikan in take cairan yang cukup pada pasien. Dalam 3-5 hari, virus akan hilang dengan sendirinya.

Flu Singapura
Gejala serupa influ­enza lainnya yang juga sempat heboh adalah flu Singapura. Sejatinya, flu ini bukan disebabkan virus influenza. Namun, karena pernah merebak di Singapura tahun 2000, banyak orang lalu menjulukinya flu singapura, yang menjangkit beberapa anak di wilayah sekitar Jakarta. Di mana secara kebetulan, orangtua sang anak tadi bekerja di Singapura.

Penyakit yang dalam istilah medis dikenal sebagai hand, mouth, and foot disease ini disebabkan oleh infeksi coxsackie dan enterovirus 71. Jadi, sama sekali bukan penyakit flu yang umumnya disebabkan virus influenza. Penyakit ini memang umum menyerang anak usia 2 minggu sampai 5 tahun, beberapa juga pada anak usia 10 tahun.

Sangat mudah menular lewat kontak langsung penderita melalui droplet atau cairan ludah. Sedangkan pada orang dewasa, umumnya sudah kebal dengan serangan virus ini. Bila terinfeksi, gejala yang timbul memang mirip flu biasa. Diawali demam hingga 2-3 hari, rasa nyeri, pegal di otot dan sendi, nyeri menelan atau sakit tengorokan, timbul batuk-pilek.

Yang jadi berbeda yakni munculnya bercak-bercak merah pada telapak tangan dan kaki. Pada beberapa pasien juga diikuti sariawan di lidah dan gusi sehingga anak jadi malas makan dan kekurangan cairan. Namun, pada dasarnya penyakit ini akan membaik sendiri dalam 7-10 hari.

Pengobatannya, sekali lagi, bersifat simptomatik atau meringankan gejalanya saja. Prasna mencontohkan, bila ada sariawan, cukup berikan antibiotik mulut mycostatin. Jika anak lemas dan dehidrasi, berikan cukup cairan atau infus untuk menggantikan kebutuhan cairan.

Sedangkan demam yang bisa berlangsung lebih dari sehari bisa diberikan parasetamol untuk meredakannya. Bila disertai muntah, berikan obat anti muntah agar nafsu makan tak terganggu.
Untuk menegakkan diagno­sa, cukup dengan anamne­sa dan pemerksaan fisik. “De­­­ngan anamnesa saja, 70 persen diagnosa sudah bisa ditegakkan, kok,” ujar Prasna.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

Kenali Ragam Flu (1)

Influenza yang ramai diperbincangkan terutama di musim pancaroba, ternyata tak hanya memiliki satu jenis virus penyebab. Jenis-jenis virus ini juga menimbulkan karakter berbeda. Yuk, kita kenali satu per satu!

Di medio bulan Februari-Maret lalu, Jakarta dihebohkan dengan temuan kasus flu singapura. Ketika itu warga sempat panik dan khawatir akan penyebaran virus yang banyak menginfeksi anak-anak ini.
Tak berapa lama kemudian, heboh lagi dengan munculnya flu babi. Kali ini spektrumnya lebih luas dan menarik perhatian WHO (World Health Organization). Ini disebabkan flu yang awalnya dianggap penyakit musiman biasa telah menimbulkan korban jiwa.

Lalu masyarakat pun mulai mengaitkannya dengan kasus flu burung yang sempat ramai di tahun 2005. Mereka menduga, mungkin ini perpaduan flu burung dan flu manusia? Mengingat gejala yang ditunjukkan ada kemiripan. Juga sama fatalnya seperti pada kasus flu burung.

Belum surut perbincangan itu, di India beberapa kuda mati hampir bersamaan. Kuat dugaan kuda-kuda itu mati akibat flu kuda yang sering menjangkiti komunitas kuda. Infeksi virus influenza tipe A ini bisa mengakibatkan kematian dalam waktu singkat pada kuda. Lalu timbul pertanyaan, apakah flu kuda juga bisa berpindah ke manusia seperti flu burung dan flu babi?
Memahami kekhawatiran di masyarakat, dr. Prasna Pramita,SpPD., spesialis penyakit dalam dari Brawijaya Women & Children Hospital menjelaskan satu per satu soal ragam flu tadi.

Flu Burung
Flu Burung atau avian influenza yang sempat menyebabkan jatuhnya banyak korban di masa lampau sebenarnya merupakan hasil infeksi varian influenza tipe A subtipe H5N1. Biasanya virus flu ini menyerang unggas seperti ayam, itik, burung, dan lainnya. Pada komunitas unggas, infeksi flu burung bisa menyebabkan kematian unggas dalam waktu singkat.

Akibat meningkatnya kemampuan infeksi virus, yang tadinya hanya menjangkiti golongan unggas dan mamalia, lalu juga menginfeksi manusia. Virus ini dapat menular melalui air liur dan kotoran hewan yang terkena flu. Infeksi virus flu burung umumnya menimbulkan gejala berat. Mulai dari demam mencapai suhu diatas 38 °C hingga berhari-hari.

Namun, menurut Prasna, secara keseluruhan flu ini mirip flu biasa yang juga menimbulkan gejala bersin-bersin, pegal dan linu di persendian, nyeri menelan, dan batuk. Pada perburukannya juga bisa menyebabkan severe respiratory distress (sesak napas hebat).

Ini bisa terjadi bila infeksi terus berlanjut dan ditunggangi bakteri yang menjadi penyebab radang paru-paru (pneumonia). Tak ada pengobatan spesifik untuk penyakit ini. Pengobatan lebih banyak mengupayakan menurunkan keganasan virus dengan antivirus seperti oseltamivir dan zanamivir. Juga merawat gejala yang timbul misalnya, memberikan alat bantu nafas seperti respirator, obat bronkodilator untuk melebarkan saluran nafas, analgesik-parasetamol untuk kasus demam dan nyeri, dan cairan infus untuk pasien yang kurang in take cairan maupun makan.

Flu Kuda
Ada lagi jenis flu yang disebabkan virus equine influenza. Dengan gejala mirip flu, tapi pada mamalia seperti kuda. Serangan virus ini mengakibatkan kematian 43 ekor kuda di bagian barat India Rajasthan dan Gujarat, sehingga dijuluki sebagai flu kuda.

Flu kuda punya dua tipe virus penyebab yakni equine-1 (H7N7) dan equine-2 (H3N8). Masing-masing memiliki karakteristik sendiri. Equine-1 lebih banyak menyerang otot dan hati, sedangkan equine-2 menyerang sistem imun tubuh.

Virus ini layaknya influenza, memiliki perjalanan penyakit sekitar 7 hari. Gejalanya seperti flu burung, menyebabkan demam, batuk-pilek, dan hilang nafsu makan. Pada kuda, umumnya perjalanan flu berkisar 1-5 hari dan banyak pula yang berujung fatal.

Hingga kini belum ditemukan penyebaran dari kuda ke manusia, meski prediksi menyebutkan dapat ditularkan ke manusia. Equine flu lebih banyak ditularkan dari kuda ke kuda lain. Pencegahan bisa diupayakan dengan pemberian vaksin pada kuda sebelum ditemukan infeksi flu.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

Aneka Terapi Alternatif (1)

Banyak cara dilakukan demi memperoleh kesehatan dan kebugaran. Antara lain, dengan melakukan berbagai terapi yang jenisnya kini makin beragam. Soal kebenaran, khasiat, dan manfaat, masing-masing metode mengklaim dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Terserah Anda, mau pilih yang mana atau sama sekali tak memilih.

***TERAPI BATU GIOK
Sesuai namanya, terapi ini menggunakan alat berbentuk kapsul (dima) yang di dalamnya tersusun jajaran batu giok dan menghasilkan infra merah yang panasnya lalu diserap tubuh. Nah, tubuh pasien dibaringkan di dalam kapsul raksasa tadi dan, “Carbon-epox serta set roller batu giok akan memjiat dari tulang leher hingga tulang paha bawah, tumit, dan betis,” jelas Minie dari Personal Medical System yang menyediakan jasa terapi ini.
Pijatan otomatis, disertai suhu panas, akan bekerja selama 33 menit dan pemijatan serta tekanan (akupresur) secara otomatis akan berhenti beberapa menit di setiap titik tubuh yang sakit. Khasiatnya? Kata Minie, macam-macam. Untuk keluhan dari punggung ke atas sampai melancarkan peredaran darah. Efek samping, lanjutnya, “Tidak ada. Sekalipun sedang mengonsumsi obat dari dokter, terapi ini tetap bisa dilakukan.”
Yang jelas, reaksi pertama dari terapi ini, biasanya, membuat kepala berat dan pusing. Konon itu indikasi adanya tekanan darah tinggi. “Seluruh badan terasa lemas dan tekanan darah naik sesaat. Tapi ini normal. Asal terapi dilakukan teratur, pasien akan sembuh dari penyakitnya.”
Sali

TERAPI EAR CANDLE
Pernah mendadak hilang pendengaran? Produksi kotoran di telinga bagian dalam bertambah sehingga memicu gangguan migran, asma, sesak napas, vertigo, dan sinusitis? Jika ya, Anda bisa mencoba terapi ear candle (EC).
Menurut terapis Susana Budiman, telinga sebagai indera pendengar berhubungan erat dengan saraf di otak. “Jika terjadi gangguan, daerah di sekitar kepala pun akan terganggu.”
Untuk mengetahui kondisi di dalam telinga (misalnya terdapat kotoran, bisul) atau kondisi gendang telinga, dilakukan pemeriksaan dengan alat pembesar khusus. “Ini untuk
mendeteksi penyakit. Semakin banyak kotoran di gendang telinga, daya pendengaran akan semakin berkurang dan sakit kepala akan sering terjadi. Pada penderita migren dan vertigo, misalnya, di bagian dalam telinganya terdapat bisul dan gendang telinganya dipenuhi jamur berwarna putih.”
Setelah penyakit diketahui, EC yang bagian tengahnya berlubang, dimasukkan ke lubang telinga dan dibakar. Lilin ini terbuat dari campuran sarang lebah dan linen berkualitas tinggi. “Nah, asap yang muncul akibat pembakaran masuk ke dalam telinga sehingga menimbulkan tekanan lalu keluar melalui lubang batang EC.”
Saat asap hasil bakaran EC keluar lewat lubang di batangnya, kotoran yang lengket dan berwarna kecokelatan pun ikut terangkat. Cara kerja EC, kata Susana, seperti vacuum cleaner. “Satu telinga, minimal menggunakan 2 lilin, maksimal 3 lilin, tergantung penyakitnya.”
Setelah EC tersisa kurang lebih 5 cm, harus segera diangkat dari telinga. Total waktu pengobatan berkisar sejam. Setelah selesai, telinga dibersihkan dengan cairan antibiotik, sementara kotoran yang tidak menempel di EC ditarik dengan pinset.
Masih menurrut Susana, terapi ini mampu menyembuhkan penyakit apa pun. Syaratnya, pasien rajin berterapi. Setelah terapi, pasien dianjurkan minum segelas air putih agar tenggorokan tidak kering akibat tekanan yang besar di dalam telinga.
Sali

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar